Indonesia Butuh Revolusi Maritim, Bukan Revolusi Mental!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 28 April 2014, 16:12 WIB
Indonesia Butuh Revolusi Maritim, Bukan Revolusi Mental<i>!</i>
ilustrasi/net
rmol news logo . Sebagai negara kepulauan, Indonesia tentunya butuh sebuah konsep dari pemimpin bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara raksasa maritim. Dan momentum pilpres 2014 ini harus ada sebuah gerakan revolusi maritim, bukan revolusi mental seperti yang didengungkan oleh salah satu calon presiden Joko Widodo.

Direktur Eksekutif Indonesia Maritim Institute (IMI), Dr Y Paonganan mengatakan secara geografis Indonesia didominasi oleh laut, sekitar 75 persen lautan dan 25 persen  daratan. Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang nomor dua di dunia setelah Kanada.

Menurutnya, berkah yang melimpah bagi rakyat Indonesia yang begitu kaya dari sumber daya alam, dan memiliki posisi geopolitik maupun geoekonomi yang sangat strategis, serta memiliki SDA yang begitu besar baik di daratan maupun di lautan.

"Konsep maritim yang harus di revolusi bukan revolusi mental aala  Jokowi," kata Y Paonganan beberapa saat lalu (Senin, 28/4).

Revolusi mental yang dicanangkan oleh Jokowi, lanjutnya, hanya sebuah visi yang tidak jelas arah tujuannya, seakan bangsa ini ada kelainan mental lantas perlu di revolusi mentalnya. Sebab yang dibutuhkan saat ini oleh bangsa Indonesia adalah revolusi disemua potensi-potensi alam yang ada terutama di laut.

"Capres yang memahami kondisi bangsa udah seharusnya mengusung revolusi maritim yang dipastikan akan membawa bangsa ini lebih maju, potensi alam kita tergarap dengan maksimal, ikan kita tidak di curi, laut kita terjaga, semua akan membawa dampak positif bagi masyarakat Indonesia," tandasnya. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA