Namun di saat yang sama, kata Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait, Indonesia juga masih terbebani berbagai masalah-masalah besar. Sebut saja misalnya masalah ekonomi yang belum merata, hukum yang belum benar-benar tegak dan adil, serta persoalan kepemimpinan dan mentalitas.
"Karena itu mengapa Revolusi Mental yang disampaikan Mas Jokowi menjadi relevan," kata Maruarar Sirait dalam diskusi dengan tema "Arah Baru Indonesia" di Ruang Multimedia Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jalan Ganeca, Kota Bandung (Sabtu, 26/4).
Dengan Revolusi Mental yang digelorakan Jokowi, ungkap Maruarar, maka hal ini akan membangkitkan optimisme seluruh
stakeholders bangsa Indonesia. Dan dengan optimisme itulah, yang disertai dengan kepemimpinan yang inspiratif dan menjadi teladan, Indonesia bisa bangkit.
Di saat yang sama, Maruarar menjelaskan, Indonesia masih memiliki persoalan dengan kebhinekaan yang masih terkoyak, keragaman yang masih belum dipahami, dan pluralisme yang masih tercabik. Hal ini terus terasa sebagai dampak kolonialisme dan imperlisme Belanda yang menggunakan strategi dan taktik memecah belah, atau
devide et impera."Maka Revolusi Mental juga harus melahirkan mentalitas bersatu. Semua rakyat Indonesia harus bersatu membangun Indonesia yang lebih baik," demikian Ara, biasa Maruarar disapa.
Selain Maruarar, hadir dalam diskusi ini konom Faisal Basri, Dosen Fisip Unpad Arry Bainus, Peneliti SAPPK ITB Ridwansyah Yusuf, anggota DPR RI fraksi Partai Golkar Rully Chairul, dan anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Ferry Joko.
[ysa]
BERITA TERKAIT: