"SBY masih memegang kartu truf dalam Pilpres," kata pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 26/4).
Hendri menjelaskan lebih rinci, selama 10 tahun terakhir ini partai-partai Islam sudah merasakan nyaman berkoalisi dengan Demokrat. Bila terjadi kemacetan koalisi di antara partai menengah, bisa jadi mereka merapat ke Demokrat lagi.
"Tinggal nanti apakah capresnya hasil pemenang Konvensi atau capresnya dari koalisi Islam yang dipasangkan dengan cawapres Demokrat hasil Konvensi," ungkap Hendri.
Itu hal pertama mengapa SBY bisa menjadi penentu. Hal lain, laut Hendri, pemilihan legislatif berbeda dengan pemilihan presiden. Dari sisi ini, maka semua orang akan menunggu capres yang keluar dari Demokrat.
"Bagaimanapun SBY masih punya pengaruh, dan siapapun nanti pemenang Konvensi, maka publik akan melihat itu sebagai pilihan SBY," jelas Hendri.
Terkait dengan elektabilitas tertinggi yang masih dipegang peserta Konvensi Demokrat, Dahlan Iskan, Hendri mengatakan, bila memang Demokrat mengusung Dahlan sebagai capres dalam koalisi yang bisa dikatakan sebagai koalisi poros tengah itu, maka konstelasi politik Indonesia pasti berubah.
Dahlan yang dikenal sebagai pekerja keras, akan mengubah konstelasi dan potensi Demokrat untuk menjadi pemenang pun terbuka.
"Dahlan cukup mencuat beberapa tahun terakhir ini. Dahlan akan bisa mengimbangi figur kerakyatan, kesederhaan dan blusukan Jokowi," demikian Hendri.
[ysa]
BERITA TERKAIT: