Demikian disampaikan Ketua Pengurus Pusat Umum Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, saat berbincang dengan
Rakyat Merdeka Online, Rabu kemarin (23/4).
Dengan sistem kuota seperti ini, ungkap Khofifah, yang terjadi adalah mencari caleg perempuan untuk memenuhi kuota saja, dan itu dilakukan menjelang pemilihan. Sementara beberapa tahun sebelumnya, tidak ada proses pendidikan dan pengkaderan politik yang dilakukan partai.
Fakta di lapangan, lanjut Khofifah, kehadiran perempuan menjadi sekedar saja. Bahkan, ada banyak terjadi, partai akhirnya mengusung caleg perempuan yang merupakan istri atau anak dari pengurus partai tersebut.
"Kalau mereka tidak terpilih, karena untuk memenuhi persyaratan saja, tidak jadi masalah. Kalau mereka terpilih
kan bagaimana? Mereka tak siap menjadi anggota legislatif, lalu mengatakan akan menjadikan kedudukan ini sebagai tahapan untuk belajar. Bagaimana ini, mengurus bangsa dan negara
kok coba-coba dan masih belajar. Belajar itu ya harus sebelumnya, kalau anggota DPR itu ya harus siap," demikian Khofifah.
[ysa]
BERITA TERKAIT: