Di sisi lain, kata pengamat komunikasi politik Ari Junaedi, terjadi anomali pada hasil raihan suara Hanura dengan begitu massifnya serbuan iklan di "darat, laut dan udara" yang digencarkan MNC Grup, payung kelompok media yang dimiliki HT.
"Yang saya maksud dengan iklan di darat adalah banyaknya pamflet, spanduk, poster dan umbul Win-HT. Sedangkan di udara, intensnya iklan Win-HT di televisi, radio dan media
online. Sampai-sampai Wiranto dan HT rela menjadi pemeran fakir miskin untuk mendramatisir tayangan. Tidak ketinggalan di laut, perahu-perahu nelayan pun disasar sebagai medium kampanye Hanura," kata Ari kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 11/4).
Menurut pengajar Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia YAI Jakarta ini, Hanura sebaiknya tidak perlu menunggu lama pasca diketahuinya hasil hitung cepat yang mendekati persentase sampel 100 persen.
"Saya tidak yakin parpol-parpol lain mau berkoalisi dengan Hanura yang masih
keukeuh mempertahankan paket Win-HT. Tentunya keberadaan pasangan Win HT harus dievaluasi," saran Ari, sambil mengatakan Hanura sebaiknya harus introspeksi sebab nama Wiranto memang sudah bukan eranya lagi.
"Indonesia butuh penyegaran kepemimpinan nasional dan pemilih sudah mulai realistis dengan pilihan itu. Jangan harapkan gencarnya iklan bisa mempengaruhi preferensi politik pemula yang kadung gandrung dengan sosok muda,"tandas Ari Junaedi
Ari menambahkan, kenaikkan suara sebesar dua persen bisa diraih Hanura karena mendapat rezeki limpahan dari pemilih Demokrat sebelumnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: