"Saya tidak yakin dengan survei itu," jelas mantan politikus Partai Demokrat Ma'mun Murod Al Barbasy kepada
Rakyat Merdeka Online (Senin, 3/3).
Karena, dia menyatakan, bocoran-bocoran survei internal yang ia terima berbeda dengan kliam SBY itu. Misalnya, perolehan suara Partai Demokrat di Jawa Barat kurang dari 6 persen.
Bahkan, di salah satu daerah pemilihan di Jabar, yang sebelumnya PD memperoleh tiga 3, menurut sebuah, pada Pemilu 2014 ini Demokrat hanya akan mendapat satu kursi. Justru PAN dan PKB yang potensial mendapat dua kursi.
"Di salah satu dapil di Jateng yang sebelumnya PD dapat 1 kursi, kemungkinan kursi hilang karena suara PD hanya di bawah 2 persen. Faktor pemecatan salah satu ketua DPC di dapil ini cukup mempengaruhi," jelas fungsionaris Perhimpunan Pergerakan Indonesia, besutan Anas Urbaningrum.
Dalam acara debat peserta Konvensi Capres Demokrat kemarin, SBY mengatakan, hasil survei yang dilakukan lembaga yang kredibel menunjukkn Demokrat menempati posisi ketiga dalam hal elektabilitas. Selain itu, selisih persentase elektabilitas Demokrat dengan partai yang menempati posisi pertama, tidak banyak.
Saat dikonfirmasi tadi malam, CEO Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Grace Natalie, mengakui bahwa yang dimaksud SBY itu adalah hasil survei dari lembaganya.
Meski begitu, Mamun Murod tidak heran dengan hasil survei yang dirilis SMRC tersebut. Karena lembaga itu memang sudah dikontrak. "Saya dengar SMRC memang dikontrak dengan biaya cukup fantastik oleh PD," jelas Ma'mun.
Menurutnya, kalau memang hasil survei itu benar, mestinya dirilis secara terbuka. "Mestinya SBY sebut sumbernya. Dan kalau benar, SMRC rilis juga dong kalau perlu konpres," demikian Ma'mun Murod Al Barbasy.
[zul]
BERITA TERKAIT: