Karena itu, anggota Timwas Century dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Soesatyo, mengingatkan akal-akal yang bisa dikatakan sebagai perampok Bank Century itu. Apalagi informasi skenario ini sejalan dengan rangkaian diskusi dan seminar yang diadakan kelompok tertentu tentang penjualan Bank Mutiara.
"Katanya keputusan penjualan Bank Mutiara adalah kewewangan LPS. Para perampok ini rupanya sedang menyiapkan perahu sekoci untuk menyelamatkan diri begitu kekuasaan dan kekuatan politik yang selama ini melindunginya bakal terpuruk dan konstalasi politik berubah pasca pemilu 9 April 2014," kata Bambang beberapa saat lalu (Senin, 3/3).
Soal pemilu itu, Bambang yakin hasil pemilu 2014 akan mengubah konstalasi politik dan hukum yang akan ikut menentukan apakah aktor intelektual skandal Century tersebut akan tetap melenggang bebas atau terlibas.
Di tempat terpisah, Minggu kemarin (2/3), ekonom Faisal Basri mengatakan bahwa DPR punya kesempatan emas untuk menyelamatkan Bank Century dari situasi sulit saat ini, ketimbang terus mempolitisasi kasus dana talangan yang merugikan keuangan negara Rp 6,7 triliun tahun 2008 lalu. Dan menurut Faisal Basri, sebaiknya parlemen fokus menyelesaikan masalah penjualan Bank Mutiara.
Faisal menjelaskan, seharusnya DPR membantu agar bagaimana Bank Mutiara bisa dijual, dan memperoleh keuntungan maksimal dari hasil penjualan. Dengan demikian, dapat memperkuat posisi perbankan nasional. Terlebih, dengan adanya isu pembatasan kepemilikan bank lokal oleh investor asing.
"Tindakan DPR melalui Timwas Century yang saat ini terus mempersoalkan dana talangan Bank Century justru membuat Bank Mutiara sepi peminat. Jika situasi lebih kondusif dalam penawaran bank eks Century itu harga jualnya dapat lebih realistis yakni pada kisaran Rp 3 triliun hingga Rp 3,5 triliun," demikian Faisal.
[ysa]
BERITA TERKAIT: