Lebih parah lagi, ada korban kemalingan yang mengaku dihubungi si maling. Maling itu meminta tebusan bila mau barang korban dikembalikan. Sementara itu, polisi seakan tidak bisa berkutik.
Atas kondisi ini, ada usulan dan tuntutan dari sementara warga. Diantaranya, meminta kepada Gubernur NTB untuk menginstruksikan seluruh elemen masyarakat agar mengumumkan di masjid-masjid, rumah mana yang terkena musibah kemalingan. Cara ini seperti layaknya pengumuman orang yang meninggal dunia.
Terkait dengan kasus ini, tokoh nasional yang juga Wasekjen DPP Golkar, Lalu Mara Satria Wangsa, angkat bicara. Kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 18/2), Lalu Mara sendiri menilai ide untuk mengumumkan rumah korban kemalingan juga merupakan ide yang bagus.
"Ide ini bagus. Sehingga kejadian tersebut jangan sampai terulang kembali. Juga agar kita membantu rumah yang terkena musibah," ungkap Lalu Mara.
Namun tentu saja, lanjut Lalu Mara, hal tidak cukup. Bagaimanapun, hal ini terkait dengan kriminalitas, dan sudah menjadi tanggung jawab negara untuk melindungi warganya. Karena itu, aparat juga harus bertindaktegas, selain untuk mencegah main hakim sendiri.
"Pemerintah provinsi harus menyelasaikan persoalan ini. Apalagi Gubernur NTBG, Tuan Guru bajang, kan juga ulama," demikian Lalu Mara.
[ysa]
BERITA TERKAIT: