Gita hanya mengetengahkan alasan ingin fokus menghadapi Konvensi Demokrat yang sedang berlangsung. Sejauh ini, dari sebelas kandidat yang bertarung di arena Konvensi, popularitas dan elektabilitas Gita Wirjawan memang termasuk yang berada di papan bawah. Padahal segala daya dan upaya telah dia lakukan untuk menggenjot popularitas dan elektabilitas termasuk menggunakan konsultan dari luar negeri.
Sementara kalangan menilai pengunduran diri itu juga didorong oleh perbedaan pandangan dan tantangan yang dihadapi Gita Wirjawan di dalam kabinet.
Dikabarkan, ia pernah berdebat panjang dengan Wakil Presiden Boediono dalam hal menstabilkan harga kedelai tahun lalu. Di bulan Mei 2013, Presiden SBY mengeluarkan Peraturan Presiden 32/20013 tentang Penugasan kepada Perusahaan Umum Bulog untuk Mengamankan Harga dan Penyaluran Kedelai.
Pada Pasal 1 disebutkan dengan tegas, mengulangi namanya, "Pemerintah menugaskan kepada Perusahaan Umum Bulog untuk melaksanakan pengamanan harga dan penyaluran kedelai."
Namun, sebagai Menteri Perdagangan Gita Wirajawan baru mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan untuk menindaklanjuti Perpres itu di bulan Agustus.
Di dalam Kepmendag bernomor 45/M-DAG/KEP/8/2013 tentang Impor Dalam Rangka Program Stabilisasi Harga Kedelai pada 28 Agustus disebutkan bahwa impor kedelai dilakukan melalui Importir Terdaftar (IT) dan Importir Produsen (IP), serta pencantuman Bulog sebagai importir kedelai yang ikut dalam Program Stabilisasi Harga Kedelai.
Selain waktu penerbitan yang dinilai terlalu lama, yakni tiga bulan dari Perpres 32/20013, isi Kepmendag 45/M-DAG/KEP/8/2013 juga dinilai berseberangan dengan Perpres 32/2013.
Menurut sementara kalangan yang pernah berdialog dengan Gita Wirjawan, Kepmendag 45/M-DAG/KEP/8/2013 diakui sebagai jalan kompromi setelah Wapres Boediono dan Gita Wirjawan terlibat perdebatan panjang sampai-sampai Presiden SBY harus turun tangan untuik menghentikan perdebatan itu.
Cerita inilah yang membuat ada juga yang percaya bahwa perbedaan pandangan dan pertentangan di dalam kabinet ikut menjadi salah satu hal yang mendorong Gita Wirjawan mengundurkan diri.
Apakah hanya Gita Wirjawan yang pernah berselisih paham dengan Wapres Boediono?
Dari penelusuran dan pembicaraan yang dilakukan redaksi dengan sejumlah tokoh yang mengetahui jalannya rapat dan persidangan kabinet, Gita Wirjawan tidak sendirian.
Ada juga yang menilai Boediono lebih sering pasif dan tidak memperlihatkan inisiatif seperti yang diharapkan. Saking pasifnya, kehadiran Boediono dalam rapat kabinet digambarkan seperti "ada tidak menggenapkan, tiada tidak mengganjilkan".
[dem]
BERITA TERKAIT: