Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Sinergi masyarakat untuk demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahuddin, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 23/1).
Menurut Said, jurnalis dipilih sebagai informan karena lebih mengenal sosok tokoh dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Profesi sebagai pekerja media memungkinkan para jurnalis untuk lebih sering berinteraksi secara langsung dengan para tokoh, baik melalui kegiatan peliputan, wawancara, dan aktivitas jurnalistik lainnya.
"Dengan begitu, Jurnalis dianggap telah mengetahui kualitas tokoh ditinjau dari sejumlah sudut pandang," ungkap Said, sambil mengatakan, jajak pendapat yang diselenggarakan Sigma pada tanggal 12-16 Januari 2014 ini dilakukan dengan metode kualitatif terhadap 112 informan yang berprofesi sebagai jurnalis dari 63 media cetak, elektronik, dan media online.
Said menjamin, jajak pendapat ini dapat dipertanggungjawabkan karena disampaikan secara jujur apa adanya, sesuai dengan jawaban yang diberikan oleh Informan. Lebih dari itu, jajak pendapat ini tidak dibiayai oleh pihak manapun.
[ysa]
BERITA TERKAIT: