"Dalam sistem demokrasi, setiap warga negara mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum dan pemerintahan. Tak ada praktek demokrasi di manapun dunia yang mengatur norma bahwa capres muda lebih baik dari capres tua," kata pengamat politik, Umar S. Bakry, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 18/1).
Selain melawan demokrasi, menurut Umar, penggiringan opini publik untuk menolak capres yang sudah berumur juga tidak memiliki logika atau alasan yang mendasar. Tidak ada jaminan dan juga tidak ada statistik yang menunjukkan bahwa presiden berusia muda selalu lebih baik daripada yang berusia tua.
Umar menjelaskan bahwa di banyak negara presiden atau pemimpin berusia lanjut justru dapat membuat sejumlah prestasi gemilang, seperti Ronald Reagan di AS atau Mahathir Muhammad di Malaysia.
"Sedangkan Presiden Dmitry Medvedev di Rusia dan Perdana Menteri Yingluck Siwanatra di Thailand yang notabene masih berusia muda ternyatatidak sanggup berbuat banyak untuk mengatasikesulitannegerinya," ungkap Umar, yang juga Sekjen Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia (AROPI).
[ysa]
BERITA TERKAIT: