Selain itu, hasil sementara perhitungan di 25 wilayah dari 27 wilayah administrasi Mesir juga menunjukan bahwa jumlah warga yang berpartisipasi pada pemilihan tersebut mengalami peningkatan dibanding pemungutan suara atas konstitusi yang digelar pada masa pemerintahan Presiden Morsi tahun 2012 lalu.
Dikabarkan kantor berita
Al Jazeera, warga Mesir yang berpartisipasi dalam pemungutan suara tersebut sekitar 38 persen dengan total 17.4 juta pemilih. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan pemilihan tahun 2012 di mana hanya terdapat 17 juta orang yang berpartisipasi dalam pemungutan suara, atau sekitar 33 persen pemilih.
Jurubicara militer Mesir, Kolonel Ahmed Ali mengklaim, fenomena ini menunjukkan bahwa Mesir telah memberikan kebebesan bersuara bagi rakyatnya. Bila hasil akhir perhitungan menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Mesir mengatakan setuju, maka konstitusi baru akan menggantikan draft konstitusi lama yang dibuat di masa pemerintahan Presiden Morsi.
Pada hari pertama pemungutan suara (Selasa, 14/1), sejumlah bentrokan terjadi di sejumlah wilayah di Mesir dan menewaskan 11 orang. Selain itu ada insiden ledakan bom yang merusak gedung pengadilan di Imbaba, dua jam sebelum pemungutan suara digelar.
Referendum konstitusi rakyat Mesir kali ini memberikan wewenang yang lebih bagi militer. Sejumlah hal baru yang di atur antara lain militer diperbolehkan mengadili warga sipil yang melakukan serangan terhadap personel ataupun institusi militer dan menghapuskan elemen-elemen Islamis seperti melarang partai-partai keagamaan. Selain itu, konstitusi juga memberikan hak yang lebih luas bagi perempuan.
Sejumlah pengamat menyebut konstitusi baru tersebut merupakan upaya bagi Kepala Staf Angkatan Darat Mesir, Jendral Abdel Fatteh el Sissi yang menggulingkan Presiden Morsi pada Juli tahun lalu untuk melenggang menuju kursi Presiden. Sisi merupakan kandidat calon presiden yang paling berpotensial untuk maju dalam pemilu presiden, sekalipun ia belum secara resmi mendeklarasikannya.
Pensiunan Jenderal militer Mesir yang saat ini bekerja di pusat studi strategi dan politik Al-Ahram, Mohamed Qadri menyebut bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Sisi untuk mendeklarasikan diri.
"Saya percaya bahwa ini adalah waku yang tepat bagi Sisi untuk membuat pengumuman bila ia ingin maju (pemilu presiden)," jelasnya seperti dilansir.
Reuters.
"Saya tidak melihat adanya orangn lain yang mampu menandinginya. Ia telah melakukan hal besar bagi negara dan orang menyukainya," tandasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: