Dengan Energi Terbarukan, Indonesia Tak Perlu Takut Krisis

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Minggu, 12 Januari 2014, 07:43 WIB
Dengan Energi Terbarukan, Indonesia Tak Perlu Takut Krisis
ilustrasi/net
rmol news logo Kenaikan harga tabung LPG 12 kg sebesar 68 persen pada awal tahun ini menjadi perbincangan hangat. PT Pertamina menaikkan harga LPG 12 kg dari sebelumnya Rp 70.200 menjadi Rp 117.708 per tabungnya. Kenaikan ini diduga akan berdampak tak positif dan memicu keresahan di masyarakat. Karena itu pemerintah melalui Kementerian BUMN, bersama Pertamina dan Badan Pemerikasa Keuangan (BPK) merevisi besaran kenaikan LPG menjadi Rp 1.000/kg.

Presiden Junior Chamber International (JCI) Indonesia, Heru Cokro menilai, permasalah ini adalah dampak dari terbatasnya sumber daya energi di Indonesia. Ketergantungan akan energi berbahan bakar minyak dan gas menjadi pemicu. Padahal salah satu faktor untuk bisa mencapai negara yang berdaulat adalah ketersedian energi.

Ia mengatakan, untuk mencapai ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi, pemerintah seharusnya tidak hanya mengandalkan sumber daya alam berbahan fosil tetapi juga mengembangkan sumber daya alam terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

"Bagaimana pun, ketergantungan akan energi yang bersumber dari fosil akan membuat Indonesia jatuh pada krisis energi pada masa mendatang. Pengembangan sumber daya energi terbarukan harus dilakukan segera. Eksploitasi sumber daya alam dari fosil bisa saja habis dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Jika tidak, maka kita akan mengalami krisis energi," ujarnya.

Data kementerian ESDM menjelaskan Indonesia mempunyai potensi energi terbarukan yang cukup besar. Potensi energi air untuk mikro dan mini hidro sebesar 450 MW, energi matahari sebesar 4,80 kWH/m2/hari, energi angin 3-6 m/s, cadangan panas bumi  mencapai angka potensi mencapai 27 Gwe. Namun hinga saat ini pengelolaannya masih belum maksimal. Dari dari 27 GWe potensi energi panas bumi , baru sekitar tiga persen atau 807 MWe yang dapat dikonversikan menjadi listrik.

Heru mengatakan, Indonesia dianugrahi kekayaan alam yang sangat melimpah yang mampu diubah menjadi sumber energi. Sumber daya alam yang melimpah inilah yang harus dimanfaatkan dengan baik sehingga ketergantungan akan energi dari sumber daya alam berbahan fosil dapat dikurangi.

Perairan Indonesia yang sangat luas dapat menghasilkan energi dari laut (ocean energy). Energi gelombang atau pemanfaatan pasang surut air laut dan energi panas air laut (ocean thermal energy) yang berasal dari panas yang tersimpan dalam air laut dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik. Selain itu, potensi angin di Indonesia juga cukup besar. Dengan menggunkan turbin angin potensi alam ini mampu menghasilkan listrik.

Bahkan, cangkang sawit yang sekarang belum dimanfaatkan secara maksimal, dapat dijadikan energi biomassa. Kotoran ternak pun dapat dijadikan bio gas untuk memasak dan menghasilkan listrik. Dengan banyaknya energi terbarukan ini, kata Heru, rasanya Indonesia tak perlu lagi khawatir mengalami krisis energi.

Ia melanjutkan, sumber energi terbarukan tersebut jika digarap dengan serius maka dapat memenuhi kebutuhan energi di Indonesia.  Indonesia tidak perlu lagi bergantung kepada asing untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

"Jika itu terjadi, maka ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi yang diimpikan dapat tercapai," demikian Heru Cokro. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA