Deklarasi ini dimotori para pendiri PDI Perjuangan Jawa Tengah seperti mantan Ketua DPP PDI Perjuangan Gunawan Wirosaroyo, Willem Tutuarima, Ng Sembiring dan pengurus Gerakan Keluarga Marhaenis (GKM) seperti Joeni D Asmartyn, Koencoro, Utoyo, Bambang Rahardjo.
Menurut Djamin, salah seorang perwakilan yang hadir dalam pertemuan dengan Kader dan Simpatisan PDI Perjuangan Pro-Jokowi pada Kamis kemarin (9/1), Megawati adalah penjaga ideologi Bung Karno. Karena itu, bila Mega maju dan kalah lagi untuk ketiga kalinya, bisa jadi generasi mendatang akan mengejek ideologi Bung Karno.
"Mereka akan mengejek bahwa ideologi Soekarno sudah tidak laku di rakyat karena sudah tidak mau dengar rakyat. Miris hatiku," ujar Djamin, pria sepuh berumur 83 tahun yang sudah mendukung Sukarno sejak Pemilu 1955 dan penggerak Promeg Jawa Tengah 1999.
Sementara itu, perwakilan dari GKM Sragen, Suyadi berpesan pada Mega yang dianggapnya tidak serius mendeklarasikan Jokowi secepatnya. Mega pun diminta tidak hanya memikirkan PDIP belaka melainkan juga harus memikirkan ideologi Bung Karno.
"Jika yang diperlukan jutaan KTP warga Jateng untuk dukung Jokowi, saya bisa tumpahkan ke Lenteng Agung (Kantor DPP).
Ojo diambangin iki urusan kehormatan Marhaenisme," ujar penggerak Promeg 1999 Jawa Tengah ini.
[ysa]
BERITA TERKAIT: