Menurut Ketua presidium PP Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Lidya Natalia Sartono, kenaikan harga LPG ini sekedar pencitraan rezim SBY. Hal ini misalnya terlihat dari rapat terbatas yang digelar SBY di Bandara Halim Perdana Kusuma, yang mau memberikan kesan Indonesia dalam kondisi yang sekarat.
Namun, Lidya mengingatkan, kenaikan harga LPG ini sebenarnya sudah diketahui oleh SBY. Lalu, SBY seakan-akan aspiratif dengan aksi dan reaksi masyarakat yang menolak kebijakan ini, dan besar kemungkinan SBY akan menurunkan harganya sehingga mendapat simpati publik.
"Ini bisa digolongkan sebagai politik pencitraan dan pembohongan terhadap publik guna menaikan elektabilitas partai politik tertentu," kata Lidya beberapa saat lalu (Senin, 6/1).
Tentu saja, lanjut Lidya, PMKRI menyerukan kepada SBY untuk menghentikan politik pencitraan ini. SBY tidak perlu lagi menjebak rakyat demi kepentingan politik sesaat untuk mencapai kekuasaan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: