Begitu disampaikan pengamat sosial politik dari Universitas Jayabaya, Igor Dirgantara, menanggapi survei Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia yang menempatkan Prabowo sebagai tokoh yang paling ditolak sebagai calon presiden.
"Janganlah perguruan tinggi dipolitisasi untuk mengangkat atau menjatuhkan seseorang. Nanti bisa jadi bumerang yang sangat buruk bagi perguruan tinggi tersebut," kata Igor kepada wartawan (Senin, 30/12).
Survei yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi UI yang dipublikasikan belum lama ini, telah menempatkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi tokoh yang paling ditolak sebagai calon Presiden, yaitu sebesar 20%. Disusul tokoh lainnya, yaitu Rhoma, Aburizal, Megawati, Pramono Edhi dan Wiranto.
Bagi Igor yang merupakan dosen FISIP Universitas Jayabaya, survei Laboratorium Psikologi Politik UI sangat aneh. Sebab, Prabowo Subianto adalah pendiri Partai Gerindra yang memiliki jaringan pengurus sampai ke pelosok tanah air. Beliau juga memiliki simpatisan dan pendukung di seluruh Indonesia, dan dalam setiap riset dan survei namanya sering masuk rating dua bahkan rating satu untuk tingkat popularitas maupun elektabilitas.
"Sehingga pelarangan nyapres berdasarkan survei itu sangat tidak masuk akal," kata Igor.
Igor pun meminta para akademisi mendorong sebanyak-banyak calon presiden yang berkualitas, agar republik ini bisa bangkit menjadi macan Asia dan menjadi lebih berwibawa saat ini.
"Indonesia sudah tidak punya wibawa sama sekali, kita perlu presiden yang tegas dan berwibawa. Kalau banyak pilihannya, silahkan rakyat memilih. Seharusnya itulah yang didorong oleh akademisi dan lembaga survey," kata Igor.
Kesimpulan Leboratorium Psikologi Politik UI dibawah pimpinan Prof Hamdi Muluk, imbuh Igor, adalah penggiringan opini publik oleh akademisi terkait hasil survei karena adanya bandwagon effect atau pilihan dan dukungan publik untuk mengarahkan kepada figur-figur .
"Ada lembaga survei tertentu juga punya dua kaki. Kaki yang satu, untuk melakukan survei yang beneran, dan kaki yang lainnya adalah untuk pendampingan (konsultan) pemenangan. Dari sini sudah terlihat bahwa ada lembaga-lembaga survei yang tidak mengedepankan independensinya," ujarnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: