Mahfuz Sidik: Diplomasi Luar Negeri Harus Bergeser dari Politik ke Ekonomi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Senin, 30 Desember 2013, 15:18 WIB
Mahfuz Sidik: Diplomasi Luar Negeri Harus Bergeser dari Politik ke Ekonomi
mahfuz sidik/net
rmol news logo . Sepanjang tahun 2013 ini, hubungan luar negeri Indonesia masih bertumpu pada diplomasi politik. Padahal dengan peningkatan size ekonomi dan ditopang dengan komposisi demografi serta ledakan demokrasi, Indonesia bisa dan harus lebih progresif dan ekspansif dalam diplomasi ekonomi.

"Istilah polugri masih jadi mindset sehingga Kemlu dan kantor-kantor perwakilan di luar negeri masih sebagai entitas dan instrumen politik," kata Ketua Komisi I, Mahfuz Sidik, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 30/12).

Memasuki tahun 2014, lanjut Mahfuz, sudah saatnya Indonesia mendayagunakan modalitas size ekonomi, struktur demograsi dan tatanan demokrasi sebagai modalitas untuk mengembangkan diplomasi ekonomi secara progresif dan ekspansif.

Tentu saja, lanjut Mahfuz, yang juga Wasekjen DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS), hal ini membutuhkan kebijakan terpadu dan restrukturisasi kelembagaan. Misalnya penggabungan Kementrian Luar Negeri dan Perdagangan Internasional.

"Jika tidak maka Indonesia hanya akan menjadi pasar bagi aktor-aktor kawasan dan dunia. Penempatan dubes-dubes juga harus mulai dirancang yang sesuai dengan misi diplomasi ekonomi," demikian Mahfuz. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA