"Artinya siapapun bisa menuliskan, bisa mengambil sudut pandang dalam melihat saya dan film
Soekarno," kata Hanung ketika berkunjung ke redaksi
Rakyat Merdeka Online, Jumat (20/12).
Hanung menyebut pemberitaan menyudutkan tentang dirinya dan film
Soekarno akibat ketidaklengkapan data. Untuk itu, katanya, diperlukan diskusi dan bertukar data sebagai bahan untuk membuat berita. "Diskusi sangat penting. Diskusi di tingkat media maupun diskusi di tingkat karya merupakan keniscayaan yang mau tidak mau mesti dilakukan. Kedatangan saya ke sini bagian untuk berdialog itu," imbuh Hanung.
Hanung menjelaskan ide film Soekarno pertama kali muncul saat dirinya membuat
Sang Pencerah, film bioptik KH Ahmad Dahlan.
Sang Pencerah merupakan
test case bagi Hanung yang mempercayai bahwa film bergenre bioptik bisa laku di pasaran, bukan seperti keyakinan para produser. Bercermin dari film
Soe Hok Gie, film yang disutradarai Riri Riza yang penontonnya tidak banyak, Hanung menggarap Sang Pencerah dengan perhitungan lain.
"Perhitungan saya, karena berhubungan dengan founding, produser, saya datang tidak bisa dengan konten kepada produser. Beda dengan founding festival. Dengan Pak Ram (Ram Punjabi) kita tidak bisa datang hanya dengan konten. Maka saya datang dengan angka," tuturnya.
Angka yang dimaksud Hanung, warga Muhammadiyah yang tercatat ada 30 juta. Dari film
Sang Pencerah, Hanung memasang target menggaet 10 persennya menonton. Bagaimana cara agar target tersebut bisa terpenuhi, Hanung bersama tim menemui pimpinan Muhammadiyah, Din Syamsuddin, untuk bertukar pikiran. Dari pertemuan kemudian disepakati perusahaan Ram Punjabi akan memodali pembuatan film, sementara Muhammadiyah memberikan dukungan moril dan menjaga konten film agar tidak melenceng. Setelah tayang, Sang Pencerah nyatanya menyedot 1,2 juta penonton.
Untuk film
Soekarno, Hanung menjelaskan, awalnya dirinya menawarkan pembuatan dua tokoh yang difilmkan kepada Ram Punjabi , yakni sosok Kartini dan Soekarno. Karena trauma dengan Kartini yang pernah dibuat dan tidak laku di pasaran, Ram Punjabi setuju yang difilmkan
Soekarno. Dengan logika dan pendekatan yang sama dengan film
Sang Pencerah, Hanung bersama Ram Punjabi kemudian melakukan pendekatan untuk mendapat dukungan moril dari pihak keluarga Bung Karno.
Komunikasi dengan Rachmawati Soekarnoputri, cerita Hanung, bermula dari cerita opera Mahaguru. Hanung ditelepon orangnya Rachma untuk bertemu dan memberi masukan dalam gladiresik Mahaguru. Dari pertemuan muncul keinginan Rachma menampilkan Bung Karno di layar lebar. Saat itu Hanung merasa seperti mendapat jalan ke luar. Dia pun cerita ke Ram Punjabi, bahwa keinginan membuat film Soekarno menemui jalan. Sudah ada salah satu pihak keluarganya yang memberi dukungan.
"Bagaimana proses selanjutnya, semuanya saya serahkan ke Pak Ram. Saya hanya sutradara. Negosiasi perjanjian seperti apa, yang berkomunikasi mereka," kata Hanung.
[dem]
BERITA TERKAIT: