Terkait dengan sosok Sjafruddin, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon punya penilaian khusus. Fadli menilai sosok Sjafruddin sebagai sosok yang jujur, sederhana, tanpa pamrih, satu kata dengan perbuatan, tegas, dan idealis. Saat itu, Sjafruddin berjasa memperjuangkan dan mempertahankan RI dari usaha Belanda dalam agresi militer kedua.
"Peran PDRI sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan RI di saat-saat kritis. Pemimpin nasional Soekarno-Hatta dan sejumlah menteri ketika itu ditawan Belanda. Yogyakarta dan kota penting lain jatuh di bawah kekuasaan Belanda. Eksistensi RI di ujung tanduk," kata Fadli Zon dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 19/12).
Selain perang gerilya di Jawa yang dipimpin Jenderal Soedirman, lanjut Fadli Zon, strategi diplomasi internasional PDRI dapat meyakinkan dunia internasional bahwa RI tetap berdiri dan perlawanan rakyat terhadap Belanda tetap berlanjut. Para pemimpin nasional ketika itu pun mampu bekerja sama dengan menghilangkan berbagai perbedaan latar belakang maupun ideologi.
"Mereka bukan politisi yang memikirkan jabatan dan kedudukan untuk kekuasaan. Mereka negarawan yang berpikir untuk generasi yang akan datang. Rasanya kita kehilangan karakter pemimpin seperti itu," kata Fadli Zon, yang mengoleksi berbagai barang peninggalan para pemimpin nasional di awal-awal Kemerdekaan.
Pemimpin sekarang, sesal Fadli, lebih memikirkan diri sendiri dan berani mengorbankan kepentingan negara demi kejayaan perseorangan atau kelompok. Pengkhianatan terhadap rakyat pun dilakukan secara terbuka dan berkelanjutan.
Kini, masih kata fadli, di saat Indonesia menghadapi tantangan globalisasi, nilai kejuangan dalam PDRI perlu dikedepankan untuk mengingatkan tujuan dan cita-cita Indonesia Raya. Nilai kejuangan dapat menjadi bahan untuk melanjutkan proses
character building bangsa Indonesia sehingga mempunyai jati diri dan identitas dalam menghadapi masa depan.
[ysa]
BERITA TERKAIT: