"Kalau ini yang terjadi Indonesia akan
set back ke belakang," ujar Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) DR. Rizal Ramli ketika berbicara di depan peserta simposium internasional bertema Masyarakat Ekonomi ASEAN di Universitas Thammasat di Bangkok, Rabu sore (27/11).
Sampai sekitar 1,5 tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen dan dianggap sebagai prestasi besar di saat banyak negara justru mengalami krisis.
Tetapi, menurut mantan Menko Perekonomian itu, pertumbuhan ekonomi tersebut lebih disebabkan oleh dua faktor eksternal yang tidak mencerminkan kemampuan pemerintah mengelola potensi ekonomi nasional.
Pertama, harga komoditas yang tinggi selama satu dekade karena dua negara besar di Asia, yakni China dan India, membutuhkan pasokan komoditas dari Indonesia.
Kedua, berupa arus kapital yang masuk ke pasar uang dan pasar modal. Ini terjadi karena
return yang diperoleh di negara maju tidak sebagus di Indoneisa.
Sejak 1,5 tahun lalu perekonomian China dan India mengalami pelambanan. Ini berarti permintaan komoditas dari Indonesia dari kedua negara ini pun mengalami penurunan dan pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Uang yang tadinya masuk pun mulai pulang ke kandang, kembali ke Eropa atau Amerika karena tingkat suku bunga membaik," sambung Rizal Ramli sambil mengatakan bahwa inilah yang disebut dengan
external driven growth atau pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh faktor-faktor luar.
Kondisi ini berbeda dengan yang dialami China dan India, juga Brazil. Pertumbuhan ekonomi ketiga negara itu ditopang oleh ekspor.
Rizal Ramli juga mengatakan bahwa saat ini ada empat defisit yang terjadi bersamaan dan membuat pekerjaan rumah pemerintah semakin berat.
"Kelihatannya pemerintah tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah ini. Banyak menteri yang tidak memiliki kemampuan. Saya hanya berharap pemerintah mendatang mengerti masalah ini," demikian kata Rizal Ramli lagi.
[dem]
BERITA TERKAIT: