Dalam hal ini, kataPresiden Junior Chamber International (JCI), Heru Cokro, Indonesia perlu belajar dari kisah sukses China, yang sudah mempersiapkan kebijakan globalisasi secara komprehensif. Sehingga, saat ini, produk, jasa dan tenaga kerja dari China sangat kompetitif dan sanggup menjadikannya sebagai raksasa ekonomi dunia. Demikian pula dengan Korea, yang telah mengantisipasi globalisasi sedemikian rupa dari akhir tahun 80-an, sehingga saat ini mampu memanfaatkan potensi lokal untuk mewarnai globalisasi.
Saat ini, lanjutnya, Indonesia masih harus tertatih menghadapi kompetisi global. Dari segi produktivitas, banyak riset yang mensinyalir rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia dibanding tenaga kerja Asing. Dari tingkat keahlian, Indonesia lebih banyak mengirim tenaga kerja dengan keahlian dasar atau kasar daripada tenaga kerja profesi.
"Tantangan ini semua harus segera dicari solusi dan rumusan kebijakannya, apalagi mengingat sebentar lagi Indonesia sudah harus menghadapi era perdagangan bebas ASEAN - Cina 2015," kata Heru beberapa saat lalu (Senin, 28/10).
Heru menyesalkan bila antisipasi terhadap globalisasi tidak dilakukan segera, spesifik dan sistematis . Apalagi mengingat potensi sumber daya alam Indonesia yang sedemikian besar, posisi geografis yang strategis, jumlah penduduk yang banyak dan populasi tenaga kerja usia produktif yang masif. Padahal bila semua sumber daya ini dimaksimalkan, Indonesia bukan saja mampu menghadapi globalisasi, tapi juga akan muncul sebegai alternatif kekuatan global di Asia, selain China dan India.
"JCI sebagai organisasi Kepemudaan internasional terbesar di dunia dan merupakan satu-satunya organisasi mitra PBB di bidang Kepemudaan, siap bermitra dengan pemerintah untuk mempersiapkan pemuda Indonesia menjadi warga negara dunia dan aktor di tingkat global, selain siap menjadi motor untuk mendorong Indonesia menjadi salah satu kekuatan global di masa mendatang," demikian Heru.
[ysa]
BERITA TERKAIT: