Menurut aktivis mahasiswa di era 1980-an, Moh Jumhur Hidayat, Sumpah Pemuda ini berlangsung dalam perasaan senasib. Senasib karena penderitaan yang sama.
Kini, setelah Indonesia merdeka, lanjut Jumhur, beberapa saat lalu (Senin, 28/10), Sumpah Pemuda seharusnya dimaknai dalam perasaan senasib karena kebahagiaan dan keberuntungan yang sama.
"Janganlah sebagian kecil saja beruntung, dan sebagian besar kurang beruntung," kata Jumhur, yang kini menjabat sebagai Kepala Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).
Bila itu yang terjadi, masih kata Jumhur, yang artinya ada ketimpangan, maka sesungguhnya itu menjadi bahaya laten. Bahaya laten yang sangat mengancam persatuan Indonesia.
[ysa]
BERITA TERKAIT: