Di luar dua momentum itu, ada juga momentum lain yang juga tidak kalah penting. Paling tidak, begitu keyakinan dan pemahaman sebagian aliran dalam Islam, terutama kelompok muslim Syiah. Momentum itu adalah Iedul Ghadir, atau Hari Raya al Ghadir, yang jatuh pada setiap tanggal 18 Dzulhijjah.
Pada tanggal 18 Dzulhijjah itu ada peristiwa besar pasca Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji. Pada tanggal itu, diyakini, Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan, atau
wilayat, kepada sahabat, keponakan, dan juga menantunya, Imam Ali bin Abi Thalib.
Di Indonesia, hari ini (Sabtu, 26/10), perayaan Iedul Ghadir dikemas dalam sebuah seminar internasional. Seminar ini bertema "Ali Putera Kabah Sang Pemersatu Ummah." Seminar ini akan membicarakan posisi dan peran Imam Ali, yantg dikenal sebagai
Suara Keadilan, Pintu Ilmu Nabi, dan
Singa Allah, dalam sejarah Islam.
Direncanakan, dalam acara yang akan digelar di gedung Smesco Kementerian Koperasi dan UKM, di Jalan Gatot Subroto, hadir beberapa pembicara. Diantaranya, Consultat for Minister of Culture Iran Mohammad Mahdi Mazahery, Mohammad Hosein Safakhah dari Center for Iranian Studies Universitas Azad, Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) KH. Jalalluddin Rakhmat, serta beberapa pembicara lain dari ormas NU dan Muhammadiyah.
[ysa]
BERITA TERKAIT: