Artinya, jumlah keluarga tani susut rata-rata 500.000 rumah tangga per tahun. Sebaliknya, di periode yang sama, jumlah perusahaan pertaniaan bertambah 1.475 perusahaan. Dari 4.011 perusahaan per tahun 2003 menjadi 5.486 perusahaan per tahun 2013. Jumlah rumah tangga usaha pertanian juga menurun sebesar 1,75 persen.
Demikian disampaikan Ketua Bidang Kebijakan Publik Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Arif Susanto, dalam keterangan beberapa saat lalu (Rabu, 16/10). Pernyataan Arif ini terkait dengan Hari Pangan Sedunia, tanggal 16 Oktober.
Data tersebut, kata Arif Susanto, menunjukkan bahwa jumlah petani di Indonesia semakin berkurang. Petani gurem bertambah banyak, dan sebaliknya jumlah perusahaan pertanian justru meningkat dan menjadi aktor utama dalam segala sektor pertanian, mulai dari alat produksi, cara produksi hingga distribusi pertanian.
"Hal ini menegaskan bahwa pemerintahan SBY gagal mensejahterakan petani dan malah berpihak kepada korporasi-korporasi pangan," demikian Arif.
[ysa]
BERITA TERKAIT: