HARI TANI NASIONAL

Pemerintahan SBY Harus Sejahterakan Petani, Bukan Sibuk Impor!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 24 September 2013, 13:18 WIB
Pemerintahan SBY Harus Sejahterakan Petani, Bukan Sibuk Impor<i>!</i>
presiden sby/net
rmol news logo . Berdasarkan data Badan Pusat Statitsik per September 2013, penduduk miskin Indonesia berjumlah 28,60 juta jiwa, dan 63,25 persen diantaranya adalah petani dan buruh tani. Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) turun sebesar 0,45 persen.

Kondisi ini, kata Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, jelas menggambarkan kehidupan petani Indonesia yang semakin sulit dari waktu ke waktu. Belum lagi, rata-rata penguasaan lahan hanya sebesar 0,3 hektar.

"Sudah seharusnya pemerintahan SBY serius mensejahterakan petani dan buruh tani Indonesia, bukan sibuk dengan kebijakan impor yang justru membunuh petani dan butuh tani Indonesia," kata Twedy dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 24/9).

Memang ironis, lanjut Twedy, negara yang bertugas untuk melindungi harkat hidup orang banyak justru menjadi pelindung bagi segelintir orang di republik ini. Dan sebagai nega ra yang memiliki jiwa dan raga agraris dan maritim, pemerintah Indonesia justru memiliki arah kebijakan yang tidak berpihak pada petani dan buruh tani dengan kebijakan liberalisasi pertanian

"Di Hari Tani Nasional yang ke 53 ini, GMNI mendesak seluruh elemen negara untuk segera mewujudkan kedaulatan politik, melalui jalan mewujudkan kedaulatan pangan dan energi," demikian Twedy. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA