Kondisi ini, kata Ketua Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, jelas menggambarkan kehidupan petani Indonesia yang semakin sulit dari waktu ke waktu. Belum lagi, rata-rata penguasaan lahan hanya sebesar 0,3 hektar.
"Sudah seharusnya pemerintahan SBY serius mensejahterakan petani dan buruh tani Indonesia, bukan sibuk dengan kebijakan impor yang justru membunuh petani dan butuh tani Indonesia," kata Twedy dalam keterangan beberapa saat lalu (Selasa, 24/9).
Memang ironis, lanjut Twedy, negara yang bertugas untuk melindungi harkat hidup orang banyak justru menjadi pelindung bagi segelintir orang di republik ini. Dan sebagai nega ra yang memiliki jiwa dan raga agraris dan maritim, pemerintah Indonesia justru memiliki arah kebijakan yang tidak berpihak pada petani dan buruh tani dengan kebijakan liberalisasi pertanian
"Di Hari Tani Nasional yang ke 53 ini, GMNI mendesak seluruh elemen negara untuk segera mewujudkan kedaulatan politik, melalui jalan mewujudkan kedaulatan pangan dan energi," demikian Twedy.
[ysa]
BERITA TERKAIT: