Hal ini, kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, menunjukkan bahwa wacana awal yang sempat memunculkan putera kedua Megawati, Prananda Prabowo, sebagai calon penerus ketua umum terbantahkan. Faktanya, paling tidak itu sinyal yang dikirim Megawati, nama Puan lebih berkibar dari Prananda.
"Megawati kan menyerahkan kepada seleksi alam,
nature. Secara
nature, Puan lebih menonjol dibanding Prananda. Apalagi Puan memegang struktur partai yang menentukan," kata Asep kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Selasa, 10/9).
Sayangnya, lanjut Asep, hingga kini, tingkat kharismatik Puan belum selevel Megawati. Puan, belum setingkat Megawati yang mampu menerjemahkan pikiran-pikiran Bung Karno dan mengaplikasikannya dalam praktek politik. Karena itu, bila pun Puan akhirnya memegang kendali partai, maka mau tak mau Puan harus disandingkan dengan tokoh-tokoh muda PDI Perjuangan lain yang bisa dikatakan memahami ajaran-ajaran Bung Karno.
"Misalnya ada Maruarar Sirait, Tjahjo Kumolo, Pramono Anung, atau Andreas Pareira. Puan harus ditopang oleh tokoh-tokoh muda itu, selain juga harus terus meningkatkan kapasitas pribadi," demikian Asep.
[ysa]
BERITA TERKAIT: