Dalam suratnya yang ditujukan bagi Presiden Rusia Vladimer Putin itu, pemimpin dari 1,2 miliar umat Katholik Roma ini menegaskan kembali posisinya yang menentang segala macam bentuk intervensi militer. Ia menulis bahwa konflik bersenjata membuat perpecahan dan luka mendalam, serta membutuhkan bertahun-tahun untuk menyembuhkannya.
Paus, sebagaimana dilansir
The Guardian (Kamis, 5/9), mengirim surat kepada Putin dalam kapasitasnya sebagai Presiden Rusia dan juga tuan rumah dari Pertemuan G-20. Dalam surat itu, Paus juga menuliskan penyesalannya terhadap konflik Suriah yang terjadi akibat adanya kepentingan sepihak.
"Sangat disesalkan bahwa sejak awal konflik di Suriah, kepentingan sepihak telah menang, dan pada kenyataannya menghambat pencarian solusi untuk menyelesaikan pembantaian yang sekarang sedang berlangsung," tulis Paus.
Di antara pemimpin negara-negara yang berkumpul dalam pertemuan G-20 itu adalah Perdana Menteri Inggris David Cameron, Presiden Cina XI Jinping dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Obama sendiri sudah merencanakan penyerangan terbatas terhadap Suriah.
Pertemuan G-20 tersebut secara resmi tidak membahas agenda terkait Suriah. Namun Paus mendesak para pemimpin dunia untuk melihat konflik, termasuk yang terjadi di Suriah saat ini, sebagai salah satu hambatan pembangunan ekonomi.
"Tanpa perdamaian, tidak ada bentuk pembangunan ekonomi. Kekerasan tidak pernah melahirkan perdamaian, kondisi yang diperlukan untuk pembangunan," demikian Paus.
[ysa]
BERITA TERKAIT: