Apalagi kebijakan yang tergantung pada impor ini sudah dikritik banyak kalangan, baik produsen tempe dan tahu mapun sejumlah ekonom dan pemerhati pangan.
"Dan sebelum kisruh soal kedelai ini, publik juga sudah menyaksikan bagaimana pemerintah gagap dalam mengatasi krisis kebutuhan pangan lainnya dari daging sapi, bawang, cabe hingga garam," kata Direktur Indonesia Economic Development Studies (IEDS), Tjandra Irawan, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 5/9).
Menurut Tjandra, solusi yang ditawarkan Gita ini bersifat instan dan reaksioner tanpa visi perencananan yang jelas terkait arah kebijakan perdagangan dan pertanian Indonesia. Dan ini semakin menjelaskan pada publik bahwa Gita Wirjawan dan Tim Ekonomi kabinet SBY-Boediono saat ini mengambil kebijakan dalam keadaan panik.
Padahal, lanjutnya, fakta bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat ini salah satunya diakibatkan defisit neraca antara ekspor dan impor. Hingga periode Januari-Juni 2013, defisit neraca keuangan mencapai sekitar 3 miliar dolar AS.
Nilai impor periode itu mencapai 94,36 miliar dolar AS, sedangkan ekspor hanya mencapai 91,05 miliar dolar AS. Adapun nilai tukar rupiah semakin anjlok pada posisi Rp 11.474 per dolar AS.
[ysa]
BERITA TERKAIT: