Berdasarkan Pemberitaan, Khofifah akan Kalahkan Soekarwo

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/zulhidayat-siregar-1'>ZULHIDAYAT SIREGAR</a>
LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR
  • Jumat, 23 Agustus 2013, 20:20 WIB
Berdasarkan Pemberitaan, Khofifah akan Kalahkan Soekarwo
khofifah indar parawansa/net
rmol news logo Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur akan bertarung merebut suara rakyat di provinsi tersebut pada 29 Agustus mendatang. Keempat pasangan tersebut adalah Soekarwo- Syaifullah Yusuf; Eggi Sudjana-Moch Sihat; Bambang Dwi Hartono MH Said Abdullah; dan Khofifah Indar Parawansa-Herman Sumadiredja.

Siapakah di antara empat pasangan tersebut yang paling populer dan paling sering direkam media?

Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) Rustika Herlambang, Jumat (23/8), menjelaskan, sebagai petahana, Soekarwo memiliki popularitas lebih tinggi dibandingkan kandidat lain. Popularitas ini dimunculkan dari berbagai aktivitas yang dilakukannya. Total ekspose yang diukur dalam 6 bulan terakhir menunjukkan bahwa Soekarwo-Saifullah lebih populer. Secara volume, 47% pemberitaan media mengenai Pilkada Jatim didominasi oleh Soekarwo-Saifullah, disusul Khofifah-Herman 30%, Bambang-Said 18%, dan Eggi-Sihat 10%.

Indonesia Indicator (I2)-sebuah lembaga riset independen berbasis software Artificial Intelligence (AI) untuk menganalisis fenomena politik, ekonomi, sosial di Indonesia-telah melakukan analisis media (survei media) terkait pilkada Jatim sejak 1 Februari hingga 22 Agustus 2013, pukul 18.00 WIB. Dalam Pilkada Jatim terdapat sebanyak 3510 berita sepanjang 2013 dari 107 media online.  

"Analisis dilakukan berdasarkan monitoring ekspose media terhadap para kandidat. Seluruh data media diambil dari mesin pengumpul I2.  Metode pengumpulan data dilakukan oleh perangkat lunak crawler (robot) secara otomatis dengan analisis berbasis AI, semantik, dan text mining," ungkap Rustika.

Tapi, lanjut Rustika membeberkan hasil temuannya, dalam 3 bulan terakhir popularitas dalam skala makro (dari seluruh media online di Indonesia) posisi pertama diduduki oleh Khofifah dengan merebut sebanyak 1584 berita, atau sekitar 38%, dalam topik Pilkada Jatim. Sementara Soekarwo mendapatkan porsi sebanyak 35%, yakni 1453 berita, disusul Bambang 17 % serta Eggi 10%.

"Eskalasi ini terus berubah sepanjang waktu. Terutama dalam minggu-minggu terakhir masa kampanye, peta kekuatan popularitas masing-masing kandidat bersaing keras. Posisi Bambang menguat sejajar dengan Soekarwo. Hal ini disebabkan oleh kehadiran tokoh nasional Jokowi di Jatim," jelasnya. Jokowi yang merupakan kader PDIP ikut mengkampanyekan Bambang.

Pasalnya, jika Jokowi memberikan efek pemberitaan dalam pilkada Jabar (25%), Jateng (14%), dan Bali (21%), jelasnya, maka hal tersebut juga berdampak di dalam pilkada Jatim sebanyak 13%. "Jumlah pemberitaan kandidat yang diusung Jokowi, dalam hal ini Bambang, mendapat sumbangan pemberitaan yang berasal dari kehadiran Jokowi," tekannya.

Lebih jauh Rustika menjelaskan, pada saat diumumkan KPUD Jatim hanya 3 kandidat yang lolos sebagai calon gubernur Jatim pilkada, data menunjukkan bahwa posisi Soekarwo sangat dominan. Sebagai petahana, dia hampir pasti menang. Namun munculnya kembali Khofifah mengubah tren popularitas kandidat bahkan posisinya melebihi Soekarwo dalam 2 bulan terakhir.

Apalagi, berbicara Jawa Timur, agak sulit untuk memisahkan dari organisasi massa terbesar, Nahdlatul Ulama (NU). Dalam topik NU, pilkada Jatim mendapat perhatian cukup. Sejak Januari 2013 terdapat 657 dari 4487 pemberitaan mengenai pemilihan gubernur. Nama Khofifah lebih banyak dibicarakan atau disebutkan. "Angka pemberitaan Khofifah berjumlah 317, Saifullah Yusuf (pasangan Soekarwo) 189, dan Said Abdullah (pasangan Bambang) 59 berita. Terlihat bahwa NU, secara umum, lebih terkait dengan aktivitas Khofifah dibandingkan kandidat lain," imbuhnya.

Temuan lain adalah tingginya pemberitaan mengenai isu kriminalisasi dan penzaliman terhadap Khofifah yang menempati porsi 18% dari seluruh pemberitaan Khofifah.

Pengalaman Indonesia Indicator dalam menganalisis 8 pilkada terakhir di Indonesia, masa 3 bulan sebelum pencoblosan adalah masa kritis bagi seorang kandidat. Bila menghitung jumlah volume pemberitaan selama 3 bulan, maka Soekarwo akan bersaing ketat dengan Khofifah. "Melihat geliat dalam satu bulan terakhir, Bambang memiliki peluang untuk menjadi nomor dua. Namun apabila berpijak pada tren pemberitaan yang sedang berlangsung, maka Khofifah Indar Parawansa akan menjadi pemenangnya," tandasnya.

Karena, dia menambahkan, pengalaman I2 dalam meneliti 8 pemilihan gubernur di Indonesia sepanjang 2012-20131, eskalasi ekspose media menunjukkan relasi kuat dengan hasil pilkada. Sebagai alat informasi, media memiliki kekuatan untuk memengaruhi persepsi publik terhadap kandidat tertentu melalui pemberitaan, yang baik secara langsung maupun tak langsung akan memengaruhi sisi elektabilitas kandidat. "Apa yang disampaikan melalui media, bisa menguatkan pilihan, namun bisa juga mengubah pilihan. Dalam hal ini, media berperan penting untuk menyosialisasikan popularitas seorang kandidat pada publiknya," demikian Rustika.[zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA