Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi I, Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 5/8).
Menurut TB Hasanuddin, ledakan bom ini cukup menarik bila dilihat dari sasarannya. Teroris mulai mengembangkan target lain yang berbeda. Sebelumnya, target terorisme adalah gereja sebagaimana bom-bom sebelumnya di Jakarta.
Kemudian target terorisme adalah kelompok-kelompok kepentingan asing sebagaimana bom Bali 1 dan bom Bali 2, kedutaan asing dan lain-lain. Berlanjut, target terorisme adalah aparat polisi sebagaimana terlihat dari bom Cirebon dan bom Solo
"Sekarang Vihara yang menjadi target," kata TB Hasanuddin, yang juga mantan Sekretaris Militer Presiden.
Hal lain yang juga menarik dianalisa, lanjut TB Hasanuddin, target terorisme pun berubah lebih masif, yaitu target personil dengan ramuan gotri . TB Hasanuddin pun yakin pelakunya adalah teroris dari kelompok yang sama dengan sebelumnya atau setidaknya merupakan hasil "pelatihan" baru.
Di luar itu, TB Hasanuddin menilai bahwa penyelidikan bom di Vihara yang sudah berdiri sejak sekitar 30 tahun lalu itu harus fokus pada dua hal. Yaitu soal vihara-nya dan soal lokasi-nya
"Mengapa yang jadi target justru Vihara Ekayana di Kebon Jeruk? Bukankah ada Vihara yang lebih besar dari Ekayana? Lalu mengapa di Kebon Jeruk? Apakah ada "masalah sosial" di sekitar Kebon Jeruk yang kemudian menjadi pilihan khusus?" Lalu apa ada hubungannya dengan kasus di Rohingnya? Apa ada benang merahnya?" demikian pertanyaan-pertanyaan TB Hasanuddin.
[ysa]
BERITA TERKAIT: