Kepada
Rakyat Merdeka Online pada pukul 18.00 tadi (Jumat, 2/8), salah seorang penumpang, Andi Syafrani, menceritakan apa yang ia alami.
Dia menjelaskan, sedianya mereka
take off pada pukul 12.50 WIB. Syafrani bersama empat orang anggota keluarganya, salah seorang masih bayi. "Tapi pas
chek in, kami hanya dapat tiga
seat. Mestinya empat. Karena satu masih bayi," ujar Syafrani, yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Sebelum mereka, Syafrani juga menyaksikan ada penumpang lain yang protes. Masalahnya sama, rombongan berjumlah enam orang, tapi hanya dikasih tiga
seat.
Syafrani pun juga protes. Petugas akhirnya mengalihkan mereka ke penerbangan pukul 13.50 WIB dengan nomor pesawat JT0714. Tepat sekitar pukul 13.20 WIB mereka sudah berada di ruang tunggu.
Tapi tiba-tiba, sekitar kurang lebih 10 menit kemudian, terdengar pengumuman bahwa pesawat
delay dan baru akan berangkat sekitar pukul 17.00 WIB. "Para penumpang pun bereaksi lalu mendatangai pihak yang bertanggung jawab dari Lion Air. Ada sekitar 20 orang," jelas Syafrani.
Mendengar protes, pihak manajemen Lior Air pun berjanji kalau
delay selama empat akan membayar Rp 300 ribu per penumpang sesuai Peraturan Menteri Perhubungan 77/2011 tentang asuransi keterlambatan, bagasi hilang serta kecelakaan.
"Persis pukul 17.20 WIB, belum ada pengumuman (pesawat akan berangkat). Penumpang datang lagi. Sesuai perjanjian, harus dikasih kompensasi," jelasnya.
Tapi, celakanya, pihak Lion Air tidak memberikan kompensasi. Alasannya, karena tadi buru-buru
boarding jadi tidak ada pengumuman. Mendengar penjelasan tersebut, salah seorang ibu-ibu merebut
mic dari petugas karena kesal.
"Sampai saat ini kami masih bertahan di ruang tunggu. Ada puluhan (penumpang) disini menanti kepastian hak. Ini bukan persoalan uang tapi komitmen dari maskapai Lion Air. Mereka menciderai janji, mereka semena-mena," kesal Syafrani.
[zul]
BERITA TERKAIT: