"Morsy tampak berusaha mengambil jalan tengah, mau merangkul semua elemen yang ada di Mesir, namun gagal," kata pengamat Timur Tengah, Muhammad Jafar, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 4/7).
Kelompok Salafi, kata Jafar, memegang kunci sangat penting. Sebab kelompok yang memiliki hubungan ideologis dengan Saudi ini menyumbang 10 persen suara untuk kemenangan Morsy dalam pilpres.
"Sekarang, apakah lemahnya kekuasaan Morsy karena pengkhinatan kelompok Salafi ini?" tanya Jafar.
Kecurigaan ini, lanjut Jafar, bisa saja muncul karena hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Salafi, apakah masih mendukung Morsy atau mendukung militer.
Hal menarik, katanya, justru datang dari Saudi. Pemerintah Arab Saudi begitu cepat merespons kudeta, dan langsung mengucapkan selamat kepada militer. Sikap cepat Saudi ini membuktikan bahwa memang Saudi merestui kekuasaan militer.
[ysa]
BERITA TERKAIT: