"Program ini multi-sektor, multi kepentingan dan multi-aktor. Partai-partai lain juga akan bermain dalam hal ini," kata pengamat politik dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf, kepada
Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 24/6.
Di saat yang sama, lanjut Asep, bila Demokrat menjadikan BLSM komoditas politik maka ini justru membahayakan eksistensi Demokrat sendiri. Di Parlemen, SBY dan Demokrat akan menjadi bulan-bulanan partai lain.
"Sementara di masyarakat, Demokrat pun akhirnya akan dicacimaki," ungkap Asep.
Asep melihat, kondisi pemilih Indonesia saat ini mulai berubah. Perubahan ini seiring dengan beragam informasi yang mudah diakses. Dan rakyat akan marah bila BLSM menjadi komoditas politik sebab mereka harus menanggung beban kenaikan harga BBM dari dari politik yang diperdagangkan itu.
[ysa]
BERITA TERKAIT: