"Memang yang terlihat jelas secara survei, model yang diinginkan itu masih modelnya Jokowi. Saya setuju dengan apa yang disampaikan Bang Jeffrie soal (kemungkinan) sekarang atau nanti. Kalau menurut saya, kemungkinan dalam politik banyak. Tapi yang paling penting itu momentum," ujar Direktur Program di The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) Adinda Tenriangke Muchtar (Senin 10/6).
Meski begitu, ungkap Adinda, masih ada lembaga survei yang tidak memasukkan nama Jokowi dalam survei karena memang PDIP belum menominasikan mantan Walikota Solo itu. Tapi peluang Jokowi untuk diusung partai banteng itu besar.
"Bukan tidak mungkin juga Megawati (Ketum PDIP) secara legowo memberikan kesempatan kepada tokoh muda. Itu kan salah satu pesan Almarhum Pak Taufiq (Kiemas) agar anak muda yang maju. Jokowi potensial dalam hal itu," ungkapnya.
Adinda tak menampik, akan ada ada orang yang menolak Jokowi. Karena Jokowi harus menuntaskan tanggung jawabnya memimpin Jakarta hingga 2017.
"Dia punya tanggung jawab secara moral kepada pemilihnya. Bayangkan saja dia baru terpilih di Jakarta. Tapi saya pikir, dia calon yang cukup kuat dari yang mewakili partai politik ya. Yang lain juga cukup bagus, yang dari independen. Makanya tergantung konvensi Demokrat," sambung Dinda.
Adinda yakin, peserta konvensi pasti akan memilih calon terbaik. Tapi tetap harus dilihat seberapa rela kader partai politik memberikan kesempatan kepada orang di luar partai untuk diusung sebagai capres. Karena itu, keterbukaan akan menjadi tantangan Partai Demokrat dalam menyelenggarakan konvensi.
"UU 14/2008 soal Keterbukaan Informasi Publik diterapkan nggak oleh partai politik. Saya pikir itu (konvensi) akan menjadi media yang sangat hangat. Dalam artian orang akan bisa memantau itu. Bagaimana sih nasib calon independen kalau ikut konvensi. Mereka di-gimana-in. Sekompetitif apa, seprofesional apa mereka diperlakukan. Karena ini untuk RI 1
lho," jelasnya.
Tapi kalau konvensi Demokrat digelar secara tertutup, Adinda menilai, agak sulit calon yang berkualitas keluar sebagai pemenang. Apalagi politik uang sangat rentan terjadi di partai politik pada setiap acara-acara pemilihan. "Secara pencalonan saya pikir sih, cukup
promising ya. Tapi bagaimana proses sebenarnya, nanti dulu. Karena kita belum tahu," tandasnya.
Sebelumnya, board of advisor CSIS, Jeffrie Geovanie, menjelaskan, kalau pemilihan presiden RI digelar hari ini, dipastikan Jokowi akan terpilih sebagai presiden dengan suara mutlak di atas 60 persen, siapa pun lawannya. Namun, karena pilpres baru akan digelar tahun 2014 mendatang, kepastian bahwa mantan Walikota Solo itu akan tampil sebagai pemenang, terpaksa harus bersabar dulu.
Menurut Jeffrie, waktu satu tahun ke depan ini akan sangat bergantung pada keberhasilan konvensi capres Partai Demokrat. Bila berjalan sangat demokratis dan diikuti calon-calon presiden dari generasi baru seperti Gita Wirjawan, Mahfud MD, Marzuki Ali, Irman Gusman, Dino Pati Jalal, Chairul Tanjung, konvensi berarti melahirkan penantang baru yang bisa mengimbangi Jokowi. Tapi kalau tidak, maka 2014 yang akan datang, teka tekinya hanya siapa yang akan menjadi wakil presiden Indonesia berikutnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: