Aktivis Prodem yang dikomandoi Syahganda Nainggolan disambut langsung Ketua MPR Taufiq Kiemas bersama pimpinan MPR lainnya.
Mereka menemui pimpinan MPR berangkat dari rasa keprihatinan akan arah Indonesia yang tidak menunjukkan tanda-tanda lebih baik meski sudah 15 tahun reformasi.
"Kita sepakat kalau bisa reformasi itu menjadi sesuatu yang dikenang oleh bangsa ini. Karena itu bagian dari perlawanan terhadap rezim otoritarian yang sangat kejam, membungkam demokrasi, penuh dengan korupsi," ujar Syahganda kepada
Rakyat Merdeka Online (Rabu, 8/5).
Karena, Syahganda menjelaskan, jelang dan saat meletusnya reformasi, banyak sekali mahasiswa dan rakyat yang gugur.
"Seperti aktivis dan penyair Wiji Thukul sampai sekarang belum jelas dimana mayatnya. Orang jangan melupakan itu, jangan melupakan kekejaman Orde Baru. Karena itu Prodem dan Taufiq Kiemas sepakat capres harus non-Orde Baru," ungkapnya.
Syahganda tak bisa menerima kalau sampai rezim Orde Baru yang ditumbangkan bahkan dengan mengorbankan nyawa rakyat Indonesia tapi jaringan atau antek-anteknya kembali berkuasa. Karena itu, dia berharap elemen masyarakat mengantisipasinya.
[zul]
BERITA TERKAIT: