"Saya jadi kasihan sama kelompok ini," ujar Jumhur kepada
Rakyat Merdeka Online (Minggu 24/2) dalam menanggapi kritikan tajam dari anggota Tim Substansi Jaringan Advokasi Revisi UU tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (JARI-PPTKILN) Pratiwi Febry yang diarahkan kepada BNP2TKI.
Namun begitu, Jumhur tidak yakin JARI-PPTKILN punya kualitas kritik serendah itu.
"Saya masih berkeyakinan itu bukan pendapat JARI-PPTKILN melainkan hanya pendapat pribadi anggotanya saja. Namun begitu, bila pernyataan anggotanya itu diamininya, ya berarti memang kelas JARI-PPTKILN seperti itu (rendah). Tidak ada kata lain selain hanya mengasihani," ujar Jumhur dengan tenang.
Secara umum Jumhur mengomentari adanya orang-orang yangg mengaku aktivis NGO tapi komentarnya substandard seperti JARI-PPTKILN ini malah merusak imej NGO, karena biasanya aktivis NGO itu cerdas-cerdas.
"Pernyataan itu merusak citra aktivis NGO yang cerdas-cerdas", keluh Jumhur.
Yang lebih mengerikan lagi, menurut Jumhur, tidak sedikit juga NGO yang bayaran, sehingga kualitas bicaranya makin ngelantur yang penting bisa menyenangkan si pembayar.
Sedangkan terkait substansi kritik yang dilontarkan JARI-PPTKILN Jumhur enggan menanggapinya karena tidak mau mengomentari kritik murahan seperti itu.
"Jangankan kritik, hujatan pun kalau itu berkelas dan subtantif, saya mau menanggapi. Kalau perlu, saya mau berdebat terbuka dengan mereka semua tentang revisi UU TKI", demikian Jumhur.
[ian]
BERITA TERKAIT: