Sebagai wujud syukurnya, Adi Sasono malam itu meluncurkan lima buku baik yang ditulis dirinya maupun ditulis orang lain.
Kelima buku itu antara lain: "Menjadi Tuan di Negeri Sendiri; Pergulatan Kerakyatan, Kemartabatan, dan Kemandirian" yang merangkum keseluruhan pemikiran ekonomi, pembangunan, demokrasi, dan sosial politik tokoh LSM tersebut. Buku yang ditulis Adi setebal 552 halaman itu diterbitkan Penerbit Grafindo Books Media.
Selain itu, ada biografi Adi Sasono yang ditulis wartawan senior
Republika, Anif Punto Utomo, berjudul: "Adi Sasono, Sang Penggerak Seribu Gagasan Seribu Tindakan." Buku setebal 350 halaman lebih itu diterbitkan Republika.
Ada pula buku yang disusun Arif Supriyono, wartawan
Republika, berjudul "Memihak Rakyat Pilihan Ideologi", yang merupakan kumpulan tulisan para sahabat Adi Sasono tentang dirinya. Penerbit Mizan juga tak ketinggalan, dengan menerbitkan ulang karya lama Adi Sasono di era 90-an, berjudul " Menuju Rakyat Berdaulat, Indonesia Ketergantungan dan Keterbelakangan."
"Saya merasa bersyukur sekali masih diberi kesempatan hidup hingga di usia 70 tahun ini. Banyak teman-teman saya sesama aktivis yang dulu sering di lapangan, sudah mendahului kita semua. Bahkan seorang sahabat ketika saya telepon, dia kaget jika dirinya masih hidup," cerita Adi di hadapan kurang lebih 1000 undangan yang hadir.
Perayaan tasyakur yang dipandu komedian Tarsan dan Eko 'Srimulat' ini juga terasa special karena dimeriahkan pula dengan tarian rakyat dan kaum pinggiran, seperti paguyuban jamu gendong, paguyuban pedagang kaki lima, serta anak-anak ABG yang mempersembahkan kolaborasi atraksi tradisional dan modern, dengan gending jawanya.
Tak ketinggalan, puluhan pejabat, pengusaha dan tokoh hadir, diantaranya Ketua DPD Irman Gusman, Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y. Thohari, Akbar Tandjung, Soetrisno Bachir, Emil Salim, Bachtiar Chamsah, Djusman Syafei Jamal, Soekamdani Sahid Gitosardjono, Sandiaga S. Uno, Heppy Trenggono, Erick Thohir, dan kalangan aktivis LSM lainnya.
Dalam sambutannya, Adi Sasono menegaskan kemiskinan yang dialami Indonesia akibat sistem ekonomi yang tidak memberi akses luas kepada rakyat kecil. Sebaliknya, akses ekonomi hanya diberikan dan dikuasai oleh segelintir orang sehingga sekelompok kecil manusia itu kini menguasai perekonomian Indonesia.
"Ini jelas tidak adil. Orientasi pembangunan kita yang salah menyebabkan keterpurukan dan kemiskinan akut bagi mayoritas warga bangsa ini. Karena itu, hal ini harus diakhiri dengan menerapkan sistem dan konsep pembangunan yang berkeadilan," papar mantan Ketua Umum ICMI itu.
Adi menjelaskan, saat ini banyak pejabat justru disibukkan dengan upaya-upaya untuk mendapatkan kedudukan politik, sehingga persoalan besar bangsa terkait kolonisasi ekonomi nasional, kemiskinan, kesenjangan sosial, krisis pangan dan krisis energi semakin dilupakan.
"Oleh karena itu, Indonesia harus kembali pada niat dan usaha untuk menghadapi persaingan global. Kemampuan memimpin sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini, untuk memperkuat basis negara, terutama ekonomi kerakyatan," ujar tokoh yang lahir di Pekalongan, Jawa Tengah ini.
Tokoh yang pernah divonis hepatitis C ini mengucapkan banyak terima kasih kepada istri, keluarga dan para sahabat yang telah berkontribusi terhadap kesuksesan dirinya. "Tanpa mereka, saya tidaklah apa-apa," pungkasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: