"Kalau sudah begini pelaku tawuran sama dengan teroris, karena sudah menciptakan suasana teror dimana-mana, menanamkan bibit-bibit dendam dan kebencian," tutur Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi, Selasa (25/9).
Tawuran antar pelajar SMU Negeri 6 dan SMU Negeri 70 sudah terjadi di tiap angkatan secara turun temurun, sampai hari ini belum terselesaikan secara.
"Ini ibarat bom waktu, setiap saat bisa saja meletus," kata politisi PKS ini.
Dinas Pendidikan DKI Jakarta sebagai pihak yang membuat kebijakan katanya, harus bertindak untuk mengumpulkan pihak-pihak yang bertanggungjawab seperti kepala sekolah, wali murid, kepolisian, termasuk juga peserta didik.
"Selama ini setiap ada tawuran selalu penyelesaiannya di tingkat elit, tanpa melibatkan peserta didik sebagai pelaku tawuran," keluhnya.
Hal ini bertolak belakang dengan kelompok peserta didik yang tergabung dalam Rohis yang malah dianggap teroris. Padahal, katanya, rohis merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang turut menanamkan nilai-nilai moral dan karakter bagi siswa.
"Sementara aksi tawuran antar sekolah terus meningkat, upaya pengikisan moral setiap hari terjadi sehingga yang berkembang malah budaya premanisme," jelas Raihan
Lebih lanjut Raihan meminta pihak sekolah untuk tidak bosan-bosannya menanamkan nilai-nilai moral dan memprioritaskan pembangunan karakter peserta didik, anak jangan hanya dinilai dari prestasi akademik saja, tapi perhatikan juga moralnya, dan bagi pelaku tawuran segera berikan sanksi yang tegas, jadikan peristiwa ini untuk yang terakhir kalinya.
[dem]
BERITA TERKAIT: