Pergantian Ketua Fraksi PKS di DPR RI dari Mustafa Kamal ke Hidayat Nur Wahid dinilai bukan sekedar rotasi biasa.
Pergantian tersebut sebagai bentuk kegalauan PKS terhadap popularitas partai yang semakin menurun. Selain hasil-hasil survei selalu tidak menguntungkan, apalagi prestasi partai dakwah itu dalam Pilkada DKI Jakarta sangat jauh dari harapan.
"PKS saat ini sedang gelisah. Sementara, pemilu 2014 sudah semakin dekat. Tentu mereka membutuhkan strategi baru dalam menarik simpati dari masyarakat," ujar pengamat politik dari FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Saleh Daulay, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Senin, 24/9).
Dengan menempatkan Hidayat Nur Wahid sebagai Ketua Fraksi, lanjut Saleh, PKS berharap suara dan kebijakan partai di parlemen semakin nyaring didengar masyarakat. Selama ini, Mustafa Kamal dianggap tidak mampu menjadi juru bicara yang baik buat partai. Banyak isu-isu yang semestinya dapat menarik simpati tidak menjadi mainstream dalam percaturan politik nasional.
"Luthfi Hasan Ishaq sebagai Presiden Partai juga tidak cukup populer. Beda dengan Hidayat yang ketika jadi presiden partai sering menjadi sentra opini publik. Komunikasi politik Hidayat jauh lebih baik dan efektif," lanjut Saleh.
Selain itu, lanjut Saleh, penempatan Hidayat sebagai Ketua Fraksi juga merupakan bagian dari upaya konsolidasi internal partai. Faksi-faksi yang ada di tubuh PKS dikhawatirkan dapat mengganggu soliditas partai. PKS membutuhkan sosok yang bisa menjembatani perbedaan pandangan dari faksi-faksi yang ada.
"Hidayat adalah sosok yang dapat diterima oleh semua faksi. Dengan menjabat Ketua Fraksi, ia diharapkan dapat menyatukan suara PKS baik di parlemen maupun di internal partai. Tentu ini modal penting bagi PKS untuk berkompetisi pada pemilu 2014 nanti," demikian Saleh. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: