Sikap arogansi kembali diperlihatkan rezim zionis Israel. Minggu kemarin, Menlu RI Marty Natalegawa bersama menlu empat negara lainnya, Malaysia, Bangladesh, Kuba, dan Aljazair, ditolak masuk Ramallah, Palestina oleh pemerintah Israel. Mereka sedianya akan mengikuti KTT tingkat Menlu Negara-Negara Non-Blok (GNB) di Ramallah.
"Penolakan ini semakin mempertegas bahwa Israel sama sekali tidak menghargai dunia internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka datang untuk kepentingan kemanusiaan tapi ditolak, adalah sikap memalukan," kata Direktur Pusat Kajian Timur Tengah dan Dunia Islam (PKTTDI), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hery Sucipto, kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu, Rabu, (8/8).
Menurut Hery, penolakan itu justru akan semakin membuat posisi Israel terkucil di dunia internasional. Jika Israel benar-benar berkomitmen menegakkan proses perdamaian, maka tidak sepatutnya penolakan itu dilakukan.
"Jika alasan bahwa kelima negara yang ditolak tidak memiliki hubungan diplomatik, maka itu alasan yang dibuat-buat. Lagi pula tempat konferensi adalah di Ramallah yang notabene masuk wilayah Palestina, bukan Israel," papar alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini.
Akibat penolakan tersebut, konferensi GNB yang akan membahas kemerdekaan dan keanggotaan Palestina di PBB, dan diikuti 14 negara itu, batal dilaksanakan. Pihaknya berharap negara-negara besar bersuara terkait hal ini.
"Ini persoalan serius. Menlu Marty ditolak masuk sama halnya melecehkan wibawa Indonesia. Karena itu, Presiden SBY harus turun tangan, minimal mengeluarkan statemen resmi karena hal ini menyangkut martabat bangsa," pungkas Hery. [zul]
BERITA TERKAIT: