Ketua MUI KH. Amidhan meminta masyarakat untuk tidak mempertajam perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan. Karena, itu umat Islam yang memilih puasa mulai Jumat (20/7) tak perlu memperlihatkan di depan publik.
"Perbedaan jangan dipertajam. Jangan dipertontonkan," kata Amidhan di sela-sela acara "Wedding On The Street, Pelaminan Nusantara" di Silang Monas, Jakarta, Minggu, (15/7).
Menurutnya, perbedaan penentuan awal Ramadhan karena ada perbedaan paradigma di antara kelompok umat Islam.
"Karena paradigma berbeda. Muhammadiyah dengan paradigma wujulul hilal dan hisab hakiki. Bulan itu ada di atas, walaupun 1 derajat," ujarnya seraya menambahkan Muhammadiyah mulai puasa pada 20 Juli.
Sementara NU berparadigma rukyah bil fi'li, yaitu melihat bulan dengan mata telanjang. Makanya, bulan baru bisa dilihat di atas 2 derajat ke atas.
"Nanti pemerintah akan menggunakan isbat tanggal 19 Juli, menggunakan rukyah," jelasnya.
MUI sendiri bagaimana sikapnya?
"19 Juli kemungkinan (bulan) tidak bisa dilihat. Nanti pemerintah akan melakukan isbat. Kita akan menyempurnakan (bulan) Syaban 30 hari. Maka puasa tanggal 21 Juli," tandasnya. [zul]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: