Demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir di tengah perbedaan perayaan Idulfitri pemerintah dan warga Muhammadiyah.
“Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain. Baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, semua pihak harus menahan diri,” ujarnya, Jumat, 20 Maret 2026.
Haedar juga mengajak para tokoh agama dan elite bangsa menghindari pernyataan atau ujaran yang dapat memperkeruh suasana di tengah masyarakat. Idulfitri harus dijalani dengan kekhusyukan ibadah dan kejernihan jiwa serta pikiran.
“Jalani Idulfitri dengan khusyuk, baik yang merayakan pada (tanggal) 20 maupun 21 Maret, bahkan yang lebih dahulu agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan,” ujarnya.
Haedar meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Ia juga berharap ke depan dunia Islam dapat memiliki kalender global tunggal untuk meminimalisasi perbedaan penetapan hari besar keagamaan.
“Ke depan,
insyaallah perbedaan itu dapat diminimalisasi, jika ada keterbukaan hati dan pikiran, serta didasarkan pada ilmu pengetahuan yang tinggi,” katanya.
Lebih jauh, Haedar menyerukan pentingnya keteladanan dari para elite bangsa dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi, sekaligus mendorong kemajuan umat dan bangsa.
“Berikan teladan bagi rakyat bahwa para elite mampu menjadi uswah hasanah dalam menciptakan persatuan, perdamaian, toleransi, dan kemajuan. Kita masih memiliki berbagai ketertinggalan yang memerlukan kerja keras bersama dari seluruh komponen bangsa,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: