Burhanuddin Muhtadi: SBY Takut PKS Besar kalau Ditendang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Selasa, 10 April 2012, 16:22 WIB
Burhanuddin Muhtadi: SBY Takut PKS Besar kalau Ditendang
presiden sby
rmol news logo Sampai saat ini tidak ada orang lain yang tahu secara pasti kenapa Presiden SBY belum juga menentukan nasib PKS di pemerintahan dan partai koalisi, setelah partai dakwah itu menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi punya analisa kenapa SBY belum juga bersikap, meski pentolan partai koalisi sudah memvonis PKS melanggar aturan koalisi sehingga harus keluar dari Setgab.

Menurut Burhan, SBY belum juga bersikap karena SBY sedang bingung. Pasalnya, SBY tahu, kalau PKS ditendang, justru akan membesarkan partai dakwah itu.

"Kalau PKS dikeluarkan, justru makin mensolidkan PKS di luar," ujar Burhan usai diskusi buku karyanya "Dilema PKS: Suara dan Syariah" dalam diskusi buku "Dilema PKS: Suara dan Syariah"  di kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Selasa (10/4).

Belum lagi, sambung Burhan, kalau PKS dikeluarkan, akan memunculkan instabilitas politik baru. Bila selama ini PKS menolak kebijakan pemerintahan hanya di parlemen, bukan tak mungkin PKS akan melakukannya di luar parlemen.

"PKS ini kan partai yang rajin demo. Kalau mereka menggelar aksi-aksi yang menentang pemerintahan, justru mensolidkan basis dukungan PKS dan itu bisa membesarkan PKS," ungkapnya.

Tak hanya itu, SBY juga mencoba melihat politik equilibrium yang ada kalau PKS dikeluarkan. Menurutnya, posisi tawar Golkar akan meningkat tajam kalau PKS memang pada akhirnya didepak dari barisan partai pemerintah.

"Padahal Golkar memiliki rekam perlawanan pembangkangan yang tidak kalah banyak dengan PKS," urainya.

Sementara itu, masih menurut Burhan, kalau SBY tetap mempertahankan PKS di dalam partai koalisi, massa partai tersebut akan mengalami disorientasi. Massa PKS akan mempertanyakan elitnya kenapa masih mendukung pemerintahan padahal sudah dicap banyak kalangan gagal.

"Di saat yang sama orang di luar partai akan mengaggap PKS sebagai partai yang plin-plan (kalau masih di dalam). Meskipun ada kemudahan. Kalau di dalam, mobilisasi finansial lebih mudah," tandas Burhan. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA