Sejumlah pihak, terutama anggota Komisi I, menilai tank buatan Jerman itu tidak cocok dengan konsep pertahanan dan kondisi geografis Indonesia.
Anggota Komisi I dari Fraksi Partai Hanura, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, mempertanyakan dasar kementerian pimpinan Purnomo Yusgiantoro memesan tank tersebut.
"Tank dengan berat sekitar 60 ton ini tidak cocok dengan medan Indonesia, dengan 70 persen adalah laut," ujarnya di tengah rapat dengan Menteri Pertahanan dan Panglima TNI di ruangan Komisi I DPR, Senayan, Jakarta (Selasa, 24/1).
Menurutnya akan lebih baik bila peningkatan alat utama sistem persenjataan Indonesia memprioritaskan pendirian markas-markas laut di perbatasan ataupun memperbanyak kapal-kapal patroli.
Beberapa kali, mantan Sekretaris Militer Presiden, TB Hasanuddin, menyebutkan, berat Leopard yang mencapai 63 ton sangat tidak cocok untuk manuver di wilayah geografis Indonesia yang gembur, terpotong-potong bahkan berawa. Tank jenis tersebut juga kurang taktis untuk sistem pertahanan kepulauan seperti di Indonesia.
Politisi PDI Perjuangan ini mengingatkan kembali perintah Presiden di tahun 2010 bahwa pengembangan alat utama sistem persenjataan menggunakan produk PT Pindad yang notabene telah mengembangkan Medium Tank (23 ton) dan sudah menjadi prototipe.
"Buatan Pindad lebih ringan, lincah dan murah karena diproduksi anak bangsa. Kita setuju TNI dilengkapi Alutsista yang canggih, tapi harus cocok dengan doktrin pertahanan dan karakter geografis atau medan di Indonesia," katanya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro berdalih bahwa rencana pembelian tank tersebut merupakan permintaan TNI Angkatan Darat.
[ald]
BERITA TERKAIT: