Namun sangat disayangkan, filosofi pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara saat ini melemah.
Penilaian ini disampaikan Ketua MPR Taufiq Kiemas saat memberikan sambutan Pembukaan Kongres XX Persatuan Taman Siswa 2011, di Pendopo Taman Siswa Yogyakarta, Rabu 7 Desember 2011 dalam siaran pers yang diterima
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Rabu,7/12).
"Roh pendidikan ada di filosofi itu. Filosofi itu pada dasarnya membangun kebersamaan, persaudaraan, kekeluargaan, dan gotong-royong antara pendidik dan anak didik," kata politisi senior PDI Perjuangan itu.
Taufiq yang juga sebagai Pembina Taman Siswa hadir di acara tersebut didampingi Wakil Ketua MPR Ahmad Farhan Hamid, dan Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Bambang Wuryanto.
Dalam sambutannya itu, Taufiq menilai maju mundurnya bangsa ini sangat bergantung bagaimana pendidikan dikelola. Jika semangat dan pengelolaan pendidikan mengacu pada filosofi yang diajarkan Ki Hajar, kata dia, maka pengelolaan negara ke depan juga akan mengedepankan gotong royong dan keteladanan.
"Filosifi itulah yang membangun dan menopang kesadaran berbangsa," ungkapnya.
Terhadap pengurus Taman Siswa, Taufiq mengingatkan bahwa sejak berdiri tahun 1922 Perguruan Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar merupakan salah satu pelopor pendidikan bagi kaum nasionalis. Taman Siswa secara nyata telah berhasil membangkitkan solidaritas kebangsaan dan mempercepat proses terjadinya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
"Dengan kiprah Perguruan Taman Siswa di daerah seluruh Indonesia, sulit disangkal bahwa karya Ki Hajar itu memberikan sumbangsih yang begitu besar dalam mendorong kesadaran bangsa hingga turut membentangkan jalan bagi kemerdekaan," jelasnya.
Untuk itu, Taufiq berpesan agar Taman Siswa terus mengembangkan dan menguatkan pendidikan di bangsa ini agar Indonesia sebagai bangsa punya karakter yang kuat karena ditempa dengan filosofi pendidikan yang sangat luhur itu. Dia menyatakan, penguatan karakter dan filosofi pendidikan saat ini bersinergi dengan upaya MPR kembali membumikan empat pilar bernegara, yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
"Langkah ini diambil dalam rangka menumbuhkan komitmen dan optimisme dalam berbangsa dan bernegara,"demikian Taufiq.
[dry]
BERITA TERKAIT: