"Jakarta ini kan megapolitan. Istilah megapolitan bukan hanya satu penduduk yang besar, tapi tingkat kebahagiaan yang tinggi dari penduduknya," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke-Circle Syahganda Nainggolan kepada
Rakyat Merdeka Online lewat sambungan telepon pagi tadi (Selasa, 22/11).
Menurut Syahganda, area perumahan warga saat ini semakin sempit, karena semakin banyaknya penduduk warga Ibukota. Hal ini tentu juga akan berimplikasi semakin sempitnya area bermain. Karena itu, perlu dibangun ruang bermain dan ruang terbuka hijau lagi.
"Misalkan bagaimana penduduk itu mempunyai ruang terbuka hijau yang luas. Jadi harus banyak seperti Monas (Monumen Nasional) itu. Kalau gang-gangnya sudah
sumpek, dia akan main ke luar. Di sini ruang terbuka hijau harus ditingkatkan hingga 30 persen," jelasnya.
Begitu juga terhadap persoalan kemacetan, dia manyarankan, persoalan ini harus diurai satu per satu. Syahganda menyarankan konsep kereta api
commuter line, kereta api bawah tanah
, busway dan jalur sepeda harus dibangun secara paralel, tidak boleh sepotong-potong. "Itu yang harus dituntaskan.
Busway dituntaskan, tapi monorel dan MRT-nya juga harus jalan. Itu yang harus dipikirkan," ungkapnya.
Hal lain, yang juga harus dipikirkan calon gubernur Jakarta mendatang adalah bagaimana cara memperbaiki sistem lalu lintas ke arah pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Selama ini kan sudah dicoba, ya dimantapkan lagi bagaimana caranya supaya orang tidak terjebak macet. Karena arus lalu lintas logistik dengan arus lalu lintas pribadi itu berhimpitan," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: