"Karena Jakarta tidak bisa hidup sendiri. Dia tergantung dari mobilitas penduduk yang ada di Jabodetabek dan sekitarnya. Penduduk Jakarta ini kalau malam kan sekitar 10 juta. Sementara siang 18-20 juta. Ini karena mobilitas kerja di Jakarta yang pulang pergi," kata Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke-Circle Syahganda Nainggolan kepada
Rakyat Merdeka Online lewat sambungan telepon pagi ini (Selasa, 22/11).
Dengan adanya konsep Great Jakarta itu, sambung Syahganda, ke depan gubernur Jakarta harus menjadi koordinator terhadap daerah-daerah atau kota penyangga Jakarta. Makanya, perlu membuat serangkaian kesepakatan yang terkait dengan hajat dan kebutuhan bersama. Misalnya, tentang pencegahan banjir yang disebabkan banjir kiriman.
Menurut Syahganda, ke depan tidak bisa sembarangan orang merusak area pegunungan dan hutan di Puncak. Gubenur Jakarta juga berhak untuk mencegah kalau terjadi penebangan pohon. Tapi sebaliknya, Gubernur Jakarta melakukan penghijauan bersama-sama dengan Pemda Bogor, Tangerang, atau daerah lainnya.
"Jadi mencegah banjir di Jakarta ada dua hal. Satu banjir yang karena permukaan laut tinggi, maka harus dibangun bendungan. Kalau yang dari gunung, harus membuat reboisasi yang besar-besaran di Puncak dan sekaligus oase-oase untuk menangkap air. Jadi air itu jangan sampai masuk ke Jakarta," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: