Demikian dikatakan Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu.
"Pernyataan sikap PKS dalam merespon
reshuffle kabinet betul-betul sikap perlawanan terhadap SBY. Bayangkan, mereka secara tegas berani mengancam SBY untuk keluar dari kabinet bila menteri mereka ada yang diganti. Sikap seperti ini memperlihatkan sikap sombong PKS. Apalagi bila dibandingkan dengan sikap anggota koalisi lain yang jumlah suaranya di parlemen jauh lebih besar," tegas Saleh.
Lanjut Saleh, sikap PKS ini juga sangat tidak proporsional. Di satu pihak, mereka selalu berteriak-teriak kalau
reshuffle kabinet itu adalah hak prerogratif presiden. Tetapi di pihak lain, mereka mengintervensi hak prerogratif itu melalui pernyataan yang mengandung unsur ancaman kepada SBY. Kalau benar PKS mengakui
reshuffle kabinet adalah hak prerogratif presiden, sebaiknya mereka tidak perlu ikut campur apalagi melakukan intimidasi politik kepada presiden.
Menyikapi masalah ini, Saleh yang juga dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan bahwa sudah tepat, jika SBY menggunakan momentum
reshuffle ini untuk menghukum PKS. Ini penting dilakukan SBY sebagai pembelajaran politik bagi semua komponen bangsa. Tanpa dukungan PKS, pemerintahan SBY masih tetap solid dan kuat.
"Saya kira SBY bisa menghukum PKS dengan mengambil 2 kementerian dari 4 kementerian yang mereka punya. Saya kira, 2 kementerian sudah sangat pas bagi PKS bila dibandingkan dengan sikap dan perilaku politik mereka selama ini. Bila mereka tidak menerima, ya SBY harus rela mempersilahkan mereka menonton di luar ring. Apalagi PKS selalu menyatakan bahwa masih banyak arena pengabdian yang bisa mereka lakukan selain berkiprah di kabinet," demikian Saleh mengakhiri.
[zul]
BERITA TERKAIT: