Partai Golkar lewat Priyo Budi Santoso mengaku terkejut; Demokrat melalui Max Sopacua langsung membantah, dan PPP melihat boleh jadi memang PKS punya kontrak koalisi spesial dengan Presiden, tapi pada kontrak yang pertama kali ditandatangani.
Bagaimana tanggapan PAN, yang juga bagian dari koalisi?
Kepada
Rakyat Merdeka Online sesaat lalu, Ketua DPP PAN Bima Arya Sugiarto menanggapi pernyataan Anis itu dengan kacamata positif.
"Saya mencoba berpikir positif dan
husnudzon. Pernyatan itu bukti sayangnya PKS pada SBY. Itu ekspresi betapa PKS tetap ingin di koalisi. Cara partai mengekspresikan sikap politiknya itu bermacam-macam. Kalau ada pernyataan-pernyataan seperti itu dari Ustad Anis, saya kira itu ekspres tetap sayang sama Presiden dan tetap ingin tetap di koalisi," kata Bima.
Bukankah malah sebaliknya, itu ekspresi ketakutan menterinya dicopot?
"Pokoknya bahasa saya begitulah. Saking inginnya PKS tetap di koalisi maka keluar pernyataan-pernyataan seperti itu," kata Bima lagi.
Mantan pengamat politik ini sendiri tidak percaya bahwa PKS punya kontrak spesial dengan Presiden SBY. Karena semua partai koalisi memiliki kedudukan yang sama di depan Presiden.
"Kan nggak mungkin. Koalisi itu semuanya dilandasi atas prinsisp kesetaraan dan kepercayaan. Semua partai saya yakin spesial di mata Presiden," jelas Bima.
Bima juga tidak melihat pernyataan Anis itu akan membuat sesama partai cemburu dan akhirnya menganggu soliditas partai koalisi. Karena dia yakin, semua partai sudah tahu posisi masing-masing dan sudah tahu gaya politik dan ekspresi masing-masing partai.
"Jadi kita saling paham. Saya sering bilang sesama bis kota jangan saling mendahului. Jadi tenang-tenang saja," demkian Bima.
[zul]
BERITA TERKAIT: