Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto kepada
Rakyat Merdeka Online pagi ini.
"Menurut saya energi publik ini tersedot ke pusaran perbincangan tentang
reshuffle sehingga cenderung lupa kasus Nazaruddin dan segala macam kan. Resonansi pemberitaan
reshuffle ini dengan sendirinya menurunkan tingkat atensi publik terhadap kasus-kasus krusial yang sebetulnya seharusnya mendapatkan perhatian publik," katanya.
Dari segi produktifitas kinerja pemerintahan, wacana
reshuffle ini juga, dari sudut makro kontraproduktif. Karena wacana ini juga akan menyita perhatian para menteri, yang harusnya bekerja. Tapi, tampaknya SBY tak mementingkan itu. Karena SBY selalu ingin dicitrakan mendengar aspirasi publik.
"Jadi atmosfer yang dibangun SBY lebih mengedepankan kepada publik bahwa dia mendengar, hati-hati dan, mempertimbangkan banyak faktor," ungkapnya.
"Tetapi bagi SBY ini sebenarnya sesuatu yang sangat dilematis. Kalau pada periode pertama, dia masih punya waktu untuk periode kedua. Tapi kalau sekarang,
at least dia tinggal punya waktu tiga tahun. Makanya proses seperti ini harus distop," tandasnya.
[zul]
BERITA TERKAIT: